Tanya Jawab Pengalaman tentang Sistem Operasi

Tanya jawab di bawah ini adalah tanya jawab yang saya buat sendiri pertanyaannya dan saya jawab sendiri. Ini adalah opini saya sebagai orang teknik yang bukan mahasiswa IT. Pengalaman ini saya dapatkan dari banyak obrolan dengan orang-orang dengan berbagai sistem operasi.

  • Sistem operasi yang dipakai saat ini? Linux Mint 14 (Nadia)
  • Sistem operasi yang intensif pernah dipakai? Windows XP, Windows Vista, Windows 7, Linux Mint, Ubuntu, FreeBSD, CentOS
  • Sudah berapa lama menggunakan OS tersebut? FreeBSD 4 tahun, Windows 5-6 tahun, Linux 3 tahun
  • Sistem operasi yang paling stabil untuk server? FreeBSD
  • Apakah kamu suka mencoba berbagai distro Linux? Tidak. Namun saya selalu tertarik untuk melakukan itu, mungkin lain waktu.
  • Beberapa kelebihan FreeBSD dibandingkan Linux? FreeBSD lebih teratur dalam hal meletakkan file konfigurasi dan saya belum pernah menemui kasus dependency cycle ketika menginstall sebuah software.
  • Kenapa memilih Linux Mint? Untuk pemakaian sehari-hari, saya lebih memilih sistem operasi yang tidak ribet sana-sini (mudah dalam pemakaiannya). Saya lebih memilih target produktivitas tinggi ketika menggunakan sistem operasi tersebut.
  • Pilih CLI atau GUI? Saya suka keduanya, tapi saya memilih menggunakan aplikasi yang mudah dan cepat digunakan. Kalo lebih mudah dengan GUI, maka saya akan menggunakan GUI, demikian sebaliknya. Misalnya untuk pengaturan IP statik atau mengganti proxy global, saya lebih memilih menggunakan GUI daripada CLI karena saya anggap lebih cepat dan lebih simpel. Namun untuk OS server, tentu saja harus menggunakan CLI karena hanya bisa diremote lewat SSH 🙂
  • Lebih stabil Linux atau Windows? Windows. Entah kenapa saya cukup sering mengalami masalah dengan Linux, namun tidak dengan Windows dan FreeBSD, haha. Mungkin pengalaman kamu berbeda dengan saya.
  • Apakah Windows tersebut bajakan? Dulu iya, tapi di kampus saya ada program kerja sama dengan Microsoft yang memungkinkan mahasiswa menggunakan Windows legal yang harus diperpanjang setiap setahun sekali.
  • Kalo begitu lebih pro proprietary software? Tidak juga, Bagi saya yang murni bukan berasal dari IT, tidak ada bedanya apakah software itu proprietary atau open source. Toh dalam pemakainnya, sebagai pengguna biasa kami hanya bisa menggunakan saja tanpa bisa mengerti apa yang harus diganti dalam source program jika memang bisa diganti. Tidak semua orang memiliki kemampuan memodifikasi source program dan tidak semua orang yang memiliki kemampuan tersebut, mau dan mampu memodifikasi program tersebut, terutama software untuk teknik. Namun tentu saja saya yang mengerti IT dan sebagai engineer teknik sipil juga sebagai seorang developer software membutuhkan software yang open source dengan berbagai kelebihannya.
  • Menurut kamu kenapa banyak orang lebih memilih menggunakan Windows atau produk proprietary lainnya? Sering kali di berbagai forum banyak orang yang berkecimpung di dunia open source menjelek-jelekkan orang-orang yang menjadi pengguna Windows ataupun program tertutup lainnya yang biasanya berbayar. Padahal bisa saja mereka lebih memilih program berbayar karena memang produknya lebih bagus dibandingkan yang gratisan. Jika keuntungan yang didapatkan menggunakan program berbayar ternyata jauh lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan gratisan, tentu orang lebih memilih software yang berbayar meskipun harus mengeluarkan duit berlebih di awal. Keuntungan yang dimaksud di sini ada produktivitas, familiaritas, dan tentu saja keuntungan berupa uang. Jika kita mengajak orang lain memakai Linux hanya agar membuat orang tersebut “lebih pintar” dengan  dibandingkan orang yang tidak memakai Linux, mungkin alasan seperti ini tidak akan diterima di berbagai dunia industri non-IT. Di duni industri non-IT, banyak orang menggunakan sistem operasi akan lebih sering berpikir “Apa yang harus saya lakukan agar pekerjaan saya selesai?” dan bukan “Apa yang bisa saya pelajari tentang sistem operasi ini?”.
  • Apakah semua nantinya bisa pindah ke Linux? Saat ini belum, karena masih banyak program yang sangat bagus yang cuma ada di Windows. Saya sering melihat software alternatif Windows yang bisa dipakai baik itu bersifat open source ataupun bersifat gratisan. Namun software-software itu hanyalah software umum yang memang sering dipakai oleh kebanyakan orang. Untuk software -software komputasi numerik (teknik), umumnya developer lebih memilih mengembangkan di Windows daripada di Linux. Contoh program teknik sipil yang belum ada alternatifnya adalah SAP2000, Etabs, dan semua produk CSI, serta ada Midas Civil, Midas Gen, dan semua produk Midas. Banyak juga software di teknik sipil yang bagus (mungkin jurusan lain juga), adanya di Windows saja. Perusahaan tersebut lebih memilih mengembangkan di Windows karena pasarnya memang menjanjikan. Ada beberapa program open source seperti OpenSees yang memang fungsinya mirip dengan software-software di atas, namun sayangnya program tersebut tidak bisa dipakai untuk kepentingan komersial (bukan lisensi GPL) dan tidak semudah program proprietary. Ada sedikit cerita dari kampus saya, jangankan hendak pindah ke Linux, bahkan ada juga pegawai yang sudah nyaman menggunakan Windows 95, tidak mau pindah ke Windows yang terbaru karena tidak mau direpotkan untuk belajar lagi. Parahnya lagi, pegawai tersebut mengeluh karena komputernya tidak bisa dihidupkan, padahal setelah diperiksa kabel listriknya belum disambungkan. Terlepas dari apapun sistem operasinya, seringkali kendala pengetahuan pengguna tentang hal-hal kecil seperti itu memang tidak bisa dihindarkan. Mau apa lagi, yang terpenting adalah bagaimana pengguna bisa merasa nyaman menyelesaikan pekerjaannya.
  • Mengapa software-software tersebut dijual dengan kode tertutup? Software-software teknik dengan fitur lengkap umumnya memang dijual dengan kode tertutup. Untuk membuat software seperti itu, tidak cukup dengan kemampuan memrogram. Perlu pengetahuan tentang software yang akan dibuat, misalnya kemampuan tentang teknik sipil, atau kemampuan numerik lainnya. Bahkan membuat program dengan fitur yang bagus, tidak cukup dengan kuliah dan literatur dari S1, butuh pengetahuan dan literatur S2 bahkan S3 untuk bisa memasukkan banyak teori ke dalam sebuah program. Intinya sih, jika harus menghabiskan banyak waktu dan uang memperoleh ilmu (teknik sipil misalnya) di bangku kuliah, dikombinasikan kemampuan pemrograman yang bagus, kenapa harus memilih memberikan software yang bagus tersebut dengan gratis? Itulah sebabnya software-software teknik harganya bisa ratusan juta dan memiliki kode tertutup. Sebuah pertanyaan iseng, jika seandainya Microsoft menjual Windows lengkap dengan sourcenya (open source dengan model RedHat), apakah kamu mau membelinya?
  • Apakah kamu penggiat open source? Ya, saya sering kok membuat program untuk client dengan kode terbuka agar bisa diubah di kemudian hari. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu peduli dengan konsep open source atau pun kode tertutup (mungkin karena bukan bidangnya).
  • Apakah kamu membenci Microsoft? Tidak.
  • Apakah kamu membenci Bill Gates? Tidak. Malah Bill Gates adalah tokoh favorit saya. Terlepas dari dia mengeluarkan produk dengan kode tertutup, Bill Gates adalah orang yang sangat dermawan. Yang sering saya lihat dari para penggiat open source adalah banyak (tidak semua) dari mereka yang menganggap Bill Gates sebagai orang yang harus dibenci. Padahal kalau dilihat dari sisi lain, dia adalah orang sangat mudah  memberikan bantuan kepada siapapun yang membutuhkan dana kemanusiaan. Jadi sebenarnya, dengan membeli produk Microsoft pun sebenarnya secara tidak langsung turut andil membantu orang di luar sana. Kalau melihat apa saja yang sudah dikerjakan oleh Bill & Melinda Gates Foundation, bisa melihat langsung ke websitenya. Kamu bisa juga melihat pemikirannya Bill Gates di blognya atau tentang kegiatan kemanusiaannya. Kamu akan melihat banyaknya usaha dan riset yang dilakukan oleh Bill Gates dalam membantu pemberantasan penyakit di Afrika, India, dan banyak negara miskin yang belum maju, serta riset aktif lainnya di bidang energi dan pendidikan.
  • Kekurangan Windows? Mungkin karena sedikit banyak terbiasa dengan FreeBSD, saya sangat kesulitan untuk memanfaatkan kelebihan CLI yang tidak ada pada Windows, serta harganya tidak murah untuk dibeli.
  • Apa kesimpulan dari percakapan ini? Sebenarnya, tidak perlu fanatik ke sebuah teknologi dan mentok di sana, baik itu kelompok Linux, FreeBSD, dan Windows, ataupun kelompok open source dan kelompok proprietary. Kenapa harus mengucilkan mereka untuk membeli jika memang mereka mampu membeli software tersebut? Nikmati saja semuanya jika memang kita bisa memperoleh software-software tersebut dengan legal.

By Duken Marga

Insinyur Teknik Sipil (Ir.), menyukai programming, internet, application development, sains, teknologi, dan matematika.

2 comments

  1. Menarik sekali, Pak. Terima kasih sudah berbagi opini. Saya juga kuliah jurusan teknik sipil dan tertarik untuk balajar IT. Salam kenal.

    1. Halo, salam kenal pak Andi. Mohon maaf baru bisa membalas setelah cukup lama saya jarang sekali mengecek blog ini. Terimakasih sudah mau membaca opini saya. Semoga sukses dan berkarya di sipil dan IT.

Leave a Reply to Duken Marga Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.