Lima Harapan yang Ingin Saya Wujudkan

Selama 19 tahun hidup di dunia yang keras ini, ada 3 hal yang akhirnya ingin saya lakukan. Pembelajaran di tingkat pendidikan selama kurang lebih 14 tahun akhirnya memberiku satu keyakinan akan harapan di masa depan dan cita-cita yang harus diwujudkan. Lima harapan itu:

1. Menyekolahkan adik-adik. Harapan dan tumpuan sebagai anak pertama memang berat. Ada keinginan yang kuat dari orang tua pada saya sebagai anak pertama dalam mengangkat derajat keluarga yang bisa dikatakan tidak tinggi. Salah satu cara untuk mencapai tujuan itu adalah mencapai pendidikan tertinggi yang bisa diraih. Bagi kebanyakan orang di Indonesia yang memang serba masih terbelakang, kita dihadapkan dengan orangtua yang tidak terlalu peduli pada pendidikan anak-anaknya. Kata mereka,” Makan saja sudah susah, apalagi mau sekolah?” Perkataan mereka memang masuk akal. Saya sendiri mempunyai 3 orang adik yang harus dipenuhi kebutuhannya, termasuk kebutuhan pendidikannya. Ibu saya adalah orang yang sangat care pada pendidikan kami, alasannya Ibu saya adalah seorang guru, wuehehe… Namun, sejak saya masih kelas 1 SMA, Ibu saya sudah menitipkan adik-adik saya pada saya. Jika nanti sudah tamat, saya yang akan membiayai sekolah mereka. Apapun tanggung jawab itu, saya tetap harus bisa mewujudkannya. Usaha apa yang sudah saya lakukan? Saya berusaha menjadi abang yang baik bagi mereka. Setiap ada masalah dan apapun masalah itu, saya akan berusaha mendengar curhatan mereka. Dengan demikian saya bisa lebih mengenal setiap kebutuhan mereka. Mudah-mudahan saya bisa menjadi abang yang baik buat mereka.

2. Memberikan sedikit pengarahan tentang dunia pendidikan kampus pada pelajar-pelajar di Sibolga. Percaya atau tidak, banyak orang belum tau apa perguruan tinggi yang bagus di Indonesia. Bahkan saya pernah mendengar kalo para siswa SMA di Jakarta bahkan tidak tahu apa itu Universitas Indonesia aka UI apalagi letaknya tidak tau di mana, termasuk saya sendiri sih. hehehe. Paling engga saya tau kalo UI itu di wilayah sekitar Jakarta.Ketika saya masih di Sibolga, saya juga bahkan pernah menyanyakan mau ke mana mereka setelah kuliah. Mereka tidak tau mau jawab apaan karena mereka tidak tau dan mengerti sedikitpun tentang hal ini. Bahkan ketika mereka menanyakan kepada saya kuliah di mana dan saya menjawab kuliah di ITB, mereka malah nanya balik ,” ITB itu di mana? Apaan itu?” hahaha.. Jadi paling tidak, salah satu harapan saya adalah memberikan gambaran tentang dunia kampus di Indonesia, apa yang bisa diperoleh dari dunia kampus, dan apa saja perguruan tinggi yang bagus di Indonesia, tentu dengan berbagai resiko yang harus dihadapi ketika sudah menjadi mahasiswa.

3. Memberikan sedikit gambaran tentang dunia ketekniksipilan pada pelajar-pelajar di Sibolga. Aneh kedengaraanya jika ada seorang mahasiswa yang punya harapan seperti itu. Saya sering bertanya pada teman saya “Apa kita sudah bisa bekerja dengan ilmu kita yang masih hijau ini?” Ada banyak jawaban dari pertanyaan ini. Ada yang bilang boleh-boleh aja. Ada yang bilang tunggu lulus dulu, baru bisa kerja. Apakah harus menunggu selama itu? Saya berpendapat apa yang bisa kita lakukan dan berikan pada orang lain maka harus kita lakukan. Paling tidak saya bisa menceritakan sedikit tentang dunia keteknisipilan pada orang lain. Bercerita tentang ketekniksipilan memang ga ada habis-habisnya. Walaupun beberapa dosen di jurusan saya ada yang lebih suka berceritan daripada mengajar, saya merasa lebih beruntung bisa memperolehnya. Pengalaman adalah guru yang paling baik dan saya beruntung bisa mendapat cerita tentang pengalaman dosen-dosen tersebut. Ada nilai lebih yang bisa diambil daripada sekedar belajar tentang materi pelajaran. Ketika kita menghadapai persoalan yang sama, kita tidak lagi belajar mencari solusi yang tepat, karena solusi sudah tersedia dari cerita dosen tadi dan saya berusaha sudah belajar dari pengalaman itu. Pengalaman dan cerita-cerita inilah yang ingin saya bagi lagi bagi orang-orang di Sibolga, daerah asal saya dibesarkan. Kenapa harus berbagi? Agar mereka juga lebih cepat belajar dari orang-orang yang memang sudah berpengalaman sama seperti saya belajar dari dosen-dosen tadi.

4. Membangun sebuah rumah. Ini adalah harapan Ibu saya. Membangun rumah sendiri adalah harapan yang terus dikumandangkan dari lubuk hati. Ada kepuasan tersendiri jika bisa membangun rumah dengan uang sendiri.

5. Jalan-jalan ke luar negeri. Harapan ini emang datang dari saya, orang tua saya, dan adik-adik saya. Saya  pengen ke Jepang, ibu saya pengen ke Betlehem, adik-adik saya masih pengen aja, tapi blum tau mau ke mana :). Saya ingin pergi ke Jepang karena saya tertarik dengan kebudayaan di sana, keteraturan kerapian mereka, dan tingkat disiplin yang tinggi. Selain itu teknologi mereka yang sudah diakui membuat saya ingin sekali melihat negara ini. Mungkin 10-20 tahun lagi saya bisa mewujudkan harapan ini nantinya.

Semua harapan di atas diurutkan berdasarkan prioritas 😀 . Jalan-jalan ke luar negeri masih terlalu berat dilakukan dalam waktu yang dekat. Mungkin teman-teman ada yang mau bayarin saya ke luar negeri? 😉

By Duken Marga

Insinyur Teknik Sipil (Ir.), menyukai programming, internet, application development, sains, teknologi, dan matematika.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.